Bismillah
Aku butuh radar!
Entah apa namanya..tapi semakin tak jelas diri ini. Futur kah? Naudzbillah… sungguh keterlaluan rasanya jika pada masa-masa yang harusnya diisi dengan produktivitas malah digunakan untuk mengulang hal –yanglagilagisalah-. Bukan.. bukannya aku lalai akan tugasku, bukan. Demi Allah bukan Ukh..
Kalau aku menyerah pada proses ini, lantas apa namanya selama ini usaha yg aku bangun dengan susah payah? Bagaimana dengan tembok yang menjulang tinggi itu? Apakah sudah tak sekuat dulu lagi pertahanannya?? Bagaimana dengan jerih payah ku selama berproses ini? Kalau saja kalian bingung, aku juga jauh lebih bingung ukh.
Seandainya aku punya radar, alangkah mudahnya hidupku ukh… aku bisa dengan cepat mendeteksi segala virus yang menyelinap, menyelip kedalam sela-sela hati… mengendap, bersembunyi tak mau keluar. Radar ini akan segera memberikan tanda pada empunya bahwa ada urgensi yang harus segera diselesaikan, jadi tak perlulah kecolongan. Virus malas, virus dengki, virus futur, virus cinta (alah alah….) dan macam-macam virus yang lain.
Maafkan aku ya ukhti…
Ukhti yang selalu dirahmati Allah Subhanahuata’ala.
Aku sadar banget kalau diriku masih banyak kesalahan disana-sini, Benar
ukh, aku masih banyak kesalahan dan kekurangan. Aku akui memang aku tak
selalu sempurna di mata kalian.
Aku berterimaksih, sangat-sangat berterimakasih kepada kalian semua.
Tulus ungkapan ini dari lubuk hati ku. Tak ternilai segala saran dan
masukan kalian, nasihat yang aduhai indahnya, dan segala petuah-petuah
ahwa sebagai kakak, kalian jauh lebih dulu terjun ke jalan ini, jalan yang
InshaAllah dirahmati Allah Swt.
Maafkan aku, mungkin kalian (sekali lagi) sedih, kalian malu atau bahkan
merasa kecewa dan marah padaku, karena aku masih terlalu banyak
kekurangan… selalu mengecewakan dsb hingga rasanya ukhti mau menangis
pedih.. jangan menangis ukh, apalagi hanya karena aku, pilu tak terkira
rasanya aku.
Tak jarang pula aku tak mengindahkan apa-apa yang ukhti katakan. Terlalu
banyak kekuranganku, hingga membuat kalian kecewa padaku, entah karena
kompetensiku, profesionalitasku, hingga (mungkin) kontribusiku yang hanya
sebatas ini saja. Ah atau mungkin kalian gelisah dan geli rasanya kenapa
aku tak bisa seperti kalian dahulu yang penuh dengan keistiqomahan..?
Kenapa ya? Aku juga mungkin tak kalah jauh gelisahnya dengan kalian
ukh…! Semua yang aku lakukan rasa-rasanya tak ada apa-apanya… Hingga
kalian akhirnya merasa lelah dengan ku…
Semua masukan, saran, kritik, nasihat-nasihat kalian akan ku terima dengan
senang hati.. aku telah menganggap kalian seorang kakak yang baik yang
menyayangiku. Aku tak peduli siapa kalian, yang akan aku lihat hanyalah
apa-apa yang kalian katakan padaku, Undzur ma qolla wa la tandzur man
qalla
Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk hanya melihat dan mengi
ngat-ingat segala kebaikan yang ada pada diri kalian ukh, biar aku lebih
mudah dalam menerima semua yang kalian katakan padaku. Tekad ku adalah
memperbaiki yang salah pada diriku ini. SEMOGA!
Sebuah Interpretasi?
Kalau lah boleh aku memilih, aku memilih menjadi seorang Nindy yang
biasa-biasa aja ukh, kenapa? Karena sepertinya tidak enak dipandang
sebagai orang yang “luar biasa”, kita akan dituntut untuk menjadi s
empurna, padahal siapa aku ukh? Aku juga manusia biasa yang gak
sempurna!
Sebuah Kontemplasi (lagi)!
Kembali merenung, ini untuk diri aku sendiri kok ukh!
” Merindukan tapi tak mendapatkan
Mengingankan tapi tak kesampaian
Maka…Percayalah pasti ada yang salah
Kata padi, bukankah hidup adalah perhentian? Kita tak harus kencang
terus berlari. Kuhelakan nafas panjang..tuk siap berlari kembali,
melangkahkan kaki. (padi-Sang Penghibur)
Tampaknya aku harus berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri ya ukh.. tak
bolehlah berkeluh kesah lagi.. keluh diri sejatinya harus ditahan, ah
ternyata perjalanan ini sangat melelahkan. Hmm
jika kita merasa terhina karena kekurangan diri kita diketahui oleh orang
lain maka janganlah kita bersedih hati. La tahzan Ndy!